Catatan Dalam Medis Menurut Fikih Islam

Catatan Dalam Medis Menurut Fikih Islam

Catatan Dalam Medis Menurut Fikih Islam – Assalamualaikum wr wb. Apakah tercantum uang sogok bila pertugas kedokteran menyambut pemberian duit ataupun kue dari penderita yang lagi dirawat di luar bayaran rumah sakit?

amfa-france.org Balasan atas persoalan di atas di informasikan Badan Badan Syariah Nasional MUI, Ustadz Dokter Oni Sahroni selaku selanjutnya:

Baca Juga : Limbah Medis Jadi Masalah Khusus Saat Pandemi Covid

Waalaikumussalam wr wb. Bayaran buat daya kedokteran itu bisa diserahkan sepanjang tidak diperjanjikan buat memperoleh suatu yang tidak halal/ bawah tangan serta tidak berlawanan dengan ketentuan dalam badan. Untuk aparat kedokteran senantiasa handal melaksanakan tugasnya melayani seluruh penderita( bagus yang berikan bayaran serta tidak). Uraian dengan cara runut dapat ditafsirkan dalam poinpoin selanjutnya ini.

Awal, misalnya, terdapat orang berumur yang berakhir mendampingi buah hatinya yang lagi dirawat di rumah sakit. Saat sebelum check out, beliau membagikan hadiah pada tiap juru rawat Rp 50 ribu. Terdapat pula seseorang suami menjemput istrinya yang dirawat sebab Covid- 19 di rumah sakit, setelah itu membagikan duit bayaran Rp 100 ribu pada aparat kedokteran yang menjaga istrinya.

Kedua, sesuatu hadiah dikategorikan uang sogok bila( a) diserahkan pada aparat kedokteran buat memperoleh suatu yang bukan haknya ataupun hak orang lain.( b) Diperjanjikan kalau donatur hendak memperoleh sarana yang tidak halal/ bawah tangan bila beliau membagikan duit bayaran( hadiah) itu.( c) Tidak terdapat ketentuan di rumah sakit itu yang mencegah aparat kedokteran menyambut bayaran.

Ketiga, bersumber pada uraian itu, bila seorang membagikan bayaran pada aparat kedokteran tanpa dipersyaratkan serta tidak buat memperoleh suatu yang bukan haknya, diperbolehkan serta bagian dari husnul akhlak.

Dengan determinasi, aparat kedokteran dengan hadiah itu senantiasa melaksanakan tugasnya selaku seseorang handal tanpa kurangi jasa pada mereka yang tidak membagikan hadiah serta sepanjang bayaran ini tidak membuat adat- istiadat yang tidak bagus. Semacam misalnya, mewajibkan penderita lain membagikan hadiah pada aparat kedokteran yang melayaninya.

Keempat, begitu juga didasarkan pada uraian Syekh Athiyah Saqr,” Namun, itu( uang sogok yang dilarang) legal dikala terdapat perjanjian antara donatur uang sogok serta akseptor tadinya. Tetapi, bila tidak terdapat perjanjian ataupun ketentuan ataupun kebiasaan di antara mereka serta hadiah diserahkan sehabis kewajiban yang sah itu ditunaikan, hingga hadiah itu bisa diserahkan serta bisa diperoleh.”

Kelima, bayaran itu bukan tercantum bagian dari ghulul semacam hadits selanjutnya ini. Dari Abu Humaid As Saidi kalau Rasulullah SAW berfirman,” Hadiah untuk administratur( pekerja) merupakan ghulul.”( HR Ahmad).

Ibnu Gasak Angkatan laut(AL) Asqalani berkata,” Ada pula hadits Abu Humaid, hingga di situ Rasul SAW menegaskan Ibnu Lutbiyyah yang menyambut hadiah yang diserahkan kepadanya. Sementara itu, hadiah itu amat terpaut dengan keberadaannya selaku seseorang amil/ pekerja saja.”( Fathul Bari, 5/ 221).

Begitu juga hadits,”… Rasulullah SAW memakai… Ibnu Luthbiyah Amru serta Ibnu Abu Umar berkata- buat mengakulasi amal. Kala menyetorkan amal yang dipungutnya, ia mengatakan,” Amal ini kuserahkan pada Kamu serta ini pemberian orang kepadaku.” Abu Humaid mengatakan,” Rasulullah SAW kemudian berpidato,… Kenapa ia tidak bersandar saja di rumah bunda ayahnya menunggu orang membawakan hadiah kepadanya?…”( HR Orang islam).

Pengarang menguasai hadits hadaya al- ummal ghulul itu jadi alas untuk yang beranggapan kalau hadiah itu tidak diperbolehkan meski tidak bersyarat. Tetapi, dalam praktiknya, mengutip opini ini menimbulkan banyak kesusahan dalam kenyataannya.

Tidak sedikit yang mau membagikan hadiah tanpa kesandung patokan uang sogok di atas. Ajaran hadaya al- ummal ghulul itu lebih pas dipakai dalam kondisi hadiah yang dilarang dalam peraturan perundangundangan, semacam gratifikasi selaku tahap prudentiality( ihtiyath) serta saddu adz- dzariah

Related Post